Friday, December 17, 2010

Pangeran Berkuda Putih.


Mimpi hadir setiap waktu, tidur bukanlah prasarat agar mimpi datang. Detik demi detik, menit berganti menit, mimpi itu hadir,mewujud menjadi harapan dan cita-cita. Berjalan tak pernah ragu melangkahkan kaki, karena mengerti,bahwa mimpi kan selalu menemani. Meski kadang, bertanya-tanya dalam hati, kapankah mimpi akan hadir, menjadi nyata?

Debur ombak di pantai, kabut di pegunungan, angin bukit di lembah menjadi tempat bertanya. Gugusan gemintang, hangat mentari, lembut bulan, hanya berdiam diri. Ingin sekali disusuri sepanjang galaksi bima sakti, tuk temukan mimpi.

Seseorang Mungkin hatimu bergumam,
“Ksatria berkuda putih yang baik hati, kapankah kau menjemputku, menciumku dan kemudian membawaku berlari?”

Kamu coba bertanya pada sungai, “Sungai, pernahkah kau mendengar berita tentang ksatria berkuda putih kekasihku itu?”.
Sungai malah bergemericik, seakan menggodaku. Pindah ke laut,malah membusa, berbuih seakan tidak peduli. Di danau, ada dua ekor angsa putih yang sedang bercengkerama,memamerkan kemesraan mereka padaku.

Ah! Gerimis.
Gerimis tidak menidurkan danau.
Hanya membuat cemara termangu.
Tidak bergoyang …
Tidak menangis…
Hanya sepi membasahi baju.

“Tolonglah aku danau, sejak lama kutermangu di tepimu.Menunggu-nunggu,menanti-nanti kapan dia kan datang ? Termanguku di sini, seperti cemara, berkawan kabut dan lembab.Bila dia datang, ingin kuganti rindu yang basah ini, dengan goyangan. Seperti tarian teratai, di atas riak permukaanmu. Ingin kusambut dia, dengan tangisan,senandung rindu. Seperti rintihan kodok, menyambut hujan. Mungkinkah itu,danau?”
“Oya, bila tiba saatnya dia datang, kuingin kau membantuku cemara! Aku khawatir, tak mampu mulutku berkata-kata. Aku tidak gagu, tak juga bisu, angin. Tapi aku khawatir lidahku kelu.
Bila dia datang di waktu siang, padamu mentari, kuingin kau memberikan hangatmu. Tatkala dia lupa waktu dan berkunjung malam, bolehkah bulan, kupinjam cantikmu?”


Dan Aku pun berkata untukmu,
“Kau lihat sungai,danau dan rerumputan, Dinda? Menurutmu,
mengapa begitu damai menunggu hujan?”
''bukankah mereka sedang menunggu? Sabar menunggu, dan cepat atau lambat hujan kan datang jua. Meski terkadang, rumput sudah meranggas, walau saat itu, danau sudah kering, tanpa air ''
“Malam selalu datang, bukan? Kenapa bumi tak pernah bosan menyambutnya,?”
“Karena Bumi tahu, cinta matahari tak lekang oleh jarak. Cinta bumi dan matahari, adalah gravitasi; adalah tarik menarik, yang menjaga semesta. Tak lupa, karena malam, adalah kerinduan; adalah penantian, pada hangat pagi. Dan, maukah Dinda menungguku ?
Karena angin bukit kejayaan, telah memanggilku begitu lantang.”


Untuk seseorang in my heart.....


Courtesy : hisbullah.multiply.com